Recent posts

APA KABAR INDONESIA? Sebuah Rihlah (perjalanan) Hati.

Maret 01, 2014 0 Comments



Indonesia menyembunyikan riak dalam senyum damainya (Ilma Diniyarul Fitri, Ngadas, 01 Maret 2014). Mungkin tulisan ini terkesan bertele-tele dan sok puitis (maaf, karena jadinya terlihat alay). Namun, beginilah cara saya menyampaikan setiap pandangan dan perasaan saya. Bermula dari sebuah perjalanan yang jauh dari asumsi awal. Satu hal yang muncul di pemikiran awal saya, “Ahh, mungkin ini hanya sekedar praktek mengajar seperti yang biasa saya praktekkan untuk memenuhi tugas matakuliah.” Jadi di dalam pemikiran saya kala itu, perjalanan ini biasa saja, hanya sekedar praktek mengajar. Namun, asumsi awal itu langsung hancur begitu saya memulai perjalanan real-nya. Mulai dari jadwal perberangkatan awal yang molor. Saya menunggu lebih satu setengah jam teman-teman dari kampus pusat. Namun, hal itu tidak membuat saya marah, malah sebaliknya, dari situ sebuah kesadaran muncul pada diri saya, untuk berpikir positif terhadap keterlambatan itu dan berusaha bersabar. Dan pada akhirnya tak ada sedikit pun emosi yang muncul dalam batin saya. 


Semakin jauh perjalanan yang dilalui, kesabaran pun lebih ditempa begitu pula dengan dengan hal kesetiakawanan. Kala melalui medan yang begitu ekstrem, di situ saya diajari perjuangan, persahabatan dan kesabaran. Dan saya rasa, hal itu membuat hati dan pemikiran saya menjadi semakin terbuka. Di tambah lagi panorama dan realitas yang saya temui selama perjalanan, and I just say “WOW” in my heart, in a good meaning. Panorama yang cool and great to the max sampai pengalaman ketika melihat seorang nenek yang memanggul buntalan yang amat besar dengan melalui medan yang terjal. And I appreciated the grandma so much. Dengan melihat itu, saya mulai melakukan refleksi dan review pada diri saya. Nenek yang berada di usia senja namun terlihat memiliki perjuangan dan semangat hidup yang tinggi. Maka saya yang hidup di tengah-tengah kemudahan dan fasilitas yang maksimal, tentunya saya harus memiliki semangat juang yang jauh lebih tinggi dari pada si nenek tersebut. That’s the point!

Sampai di ngadas. Horray! Disambut dengan pemandangan yang nggak kalah keren dibandingkan dengan panorama selama perjalanan. Begitupun dengan level dinginnya yang nggak kalah keren. Di sini saya merasa Allah SWT menunjukkan kuasanya secara langsung. Membuka mata saya lebar-lebar dengan menunjukkan kekayaan alam Indonesia yang tak terbeli. Mulai dari tanah yang subur, berbagai tanaman bermanfaat yang dapat tumbuh begitu mudahnya, penduduk yang dapat hidup makmur dengan hasil bumi yang melimpah, sampai pepohonan yang dapat menopang kehidupan para manusia yang hidup di dataran rendah seperti saya. Namun, dari segala kedamaian dan anugerah yang Allah berikan, ada gejolak-gejolak permasalahan yang tersirat secara implisit. Pendidikan! That’s the point!

Yap! Pendidikan seolah hanya dijadikan bahan pelengkap. Sifatnya inferior. Dibutuhkan namun berada di urutan kesekian. Hal tersebut terbukti saat saya mengajar maupun saat mengamati proses pengajaran. Kebanyakan di antara para siswa hadir ke sekolah hanya untuk datang, mengikuti proses dan pulang tanpa membawa hasil yang signifikan. Bahkan dilihat dari semangat juang untuk berprestasi di bidang pendidikan pun di rasa kurang. Inilah yang saya maksud dengan quotes saya yang berbunyi Indonesia menyembunyikan riak dalam senyum damainya. Namun perlu digarisbawahi bahwa konteks pendidikan yang saya bahas disini meliputi aspek intelegensi, sosial, maupun moral (karakter). Jadi yang saya soroti tidak melulu pada aspek kognitif (intelegensi) saja.


Dari permasalahan yang seperti itu, diperlukan sebuah gerakan yang demikian dan harus semakin digalakkan. Sebagai wujud balas budi pada tanah Indonesia. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mengusahakan pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan hingga pelosok Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh para sahabat UMengajar (A BIG thanks for involving me! J). Karena alangkah lebih indah jika kekayaan sumber daya alam Indonesia yang berada di Ngadas ini dapat di-manage secara optimal oleh tunas-tunas bangsa Ngadas yang berkualitas baik dari segi intelegensi, social maupun moral (karakter). Dan tentunya dapat meningkatkan kemakmuran dan citra Indonesia. Aamiin…

Tidak melulu hal negative yang bersifat subjektif yang akan saya lontarkan. Pengalaman mengajar di Ngadas juga mengajari saya tentang harmonisme dan toleransi antar umat beragama. Selain itu, sikap ramah dan kerja keras yang ditunjukkan oleh para penduduk setempat serta sikap menepati janji yang ditunjukkan para siswa di Ngadas begitu menyita perhatian saya. Meskipun hujan deras, para siswa SD tetap datang pada pukul 16.00 untuk menghdiri acara games yang diadakan oleh kakak-kakak UMengajar. Hal itu menyadarkan saya, bahwa banyak para penduduk dataran rendah a.k.a kota yang terkadang membatalkan janji hanya karena masalah hujan. Sehingga pengalaman dan kesadaran itu benar-benar terasa WOW untuk saya.


Beralih pada momen ketika saya mengajar. Sekali lagi, konsep bahwa mengajar itu tidak gampang itu memang benar adanya. Mulai dari usaha menyampaikan konteks pendidikan agar dapat diterima oleh siswa yang memiliki background yang bervariasi sampai menyatukan konsep pemahaman mereka. Belum lagi planning yang sudah tersusun dengan cukup sempurna tiba-tiba harus banting setir menyesuaikan dengan sikon yang ada. Dari sini, satu kesadaran lagi muncul. Saya harus lebih dan lebih menghargai lagi setiap orang yang telah menjadi pendidik saya baik yang formal maupun non formal. Dan tentunya saya lebih mencintai jurusan saya yang bergelut dalam bidang pendidikan. And I wanna struggle for it again and again… aamiin… and I hope I will realize it truly.

Beralih ke hal lain lagi. Bukan sebuah tindakan mengenali Indonesia jika sebatas mengetahui area perkotaan Indonesia tanpa mengenali ranah dan ceruk-ceruk terdalam dari negeri ini. Maka saya mengambil judul “Apa Kabar Indonesia” dengan sub judul sebuah perjalanan hati karena penglaman ini adalah salah satu pengalaman hidup saya yang sangat berarti. Ada tawa, ada perjuangan, ada tangis, ada kebersamaan, dan lain sebagainya di sini. Untuk itu perjuangan ini harus tetap dilanjutkan. Sekecil apapun sebuah perjuangan perbaikan, tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan feedback yang begitu besar walaupun feedback itu tidak terwujud secara konkret. Mungkin feedback ataupun result itu akan terwujud secara implisit pada kesadaran dan pemahaman para pelaku dan pejuang perubahan perbaikan itu.

And the last words… Keep spirit! Keep trying for this! Hope this will be last long! J

Ngadas-Poncokususmo-Malang
01 Maret 2014

Profil Pengajar Muda Angkatan 1:
Nama: Ilma Diniyarul Fitri
TTL: -
Study: S1 Pendidikan Anak Usia Dini (FIP) Universitas Negeri Malang
Alamat Asal: Jln Balai Karya - Petung Wulung - Petungasri - Pandaan - Pasuruan
Motto: FOKUS and Survive

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: