Recent posts

Menagih Seperti Ingin Lagi dan Lagi

Agustus 21, 2014 0 Comments



Ngadas, sebuah desa di ujung timur Kabupaten Malang. Ya, kesanalah kami tim merah – UMengajar berjuang. Berjuang menaklukan medan yang berat dengan sebuah tujuan yang mulia yaitu mendidik dan menginspirasi anak-anak Desa Ngadas. Anak-anak Desa Ngadas adalah anak-anak yang pintar, rajin, berkemauan keras dan berhati mulia. Kiranya itu yang dapat membuat hatiku bahagia ketika aku berhadapan dengan mereka. Lelah setelah perjalanan panjang dan menanjak tidak lagi terasa setelah aku berada di kelas untuk mengajar mereka.

  
Mata pelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran favourite murid kelas IV SDN 1 Ngadas. Mereka sangat antusias belajar. Membuat sebuat gambar ekspresi wajah, ya itulah materi yang telah kupersiapkan untuk mereka, dan alhamdulillah mereka menyambut dengan senang. Dengan cepat mereka menyelesaikan gambar dan tak diduga gambar yang mereka kerjakan sangat bagus, sungguh anak-anak yang cerdas. Kuberikan semua anak nilai 100 dan mereka sangat senang. Ekspresi kesenangan itupun diabadikan dengan sebuah kamera SLR yang membuat ekspresi kesenangan mereka semakin jelas terlihat di foto.
           
Selesai menggambar, kelas pun diistirahatkan. Namun entah mengapa ada salah satu muridku yang menangis. Aku menghampirinya dan bertanya, ternyata ada teman yang memukulnya. Kemudian aku mencari anak yang memukulnya, namanya Dodo. Setelah itu kutanyakan alasannya memukul, ternyata dia memendam rasa dendam karena selama ini dialah yang dipukul dan diejek. Mereka berdua pun bertengkar lagi dan aku pun melerainya dibantu dengan teman-temannya. Setelah itu aku nasehati satu persatu dan akhirnya mereka saling memaafkan dan berhenti menangis.
            
Ketika kelas dimulai lagi, tetap dengan pelajaran bahasa inggris seperti yang anak didik pinta. Aku menuliskan nama hari dan bulan di papan tulis lalu mereka mentranslatenya dan menuliskan bahasa inggrisnya di papan tulis. Mereka tampak antusias, mereka saling antri dan berebut ingin menulis. Namun tiba-tiba aku melihat ada murid perempuan yang menangis, ketika aku tanya alasannya menangis ternyata kamusnya direbut oleh teman yang duduk didepannya yang bernama Agung. Akupun menenangkannya dan ia pun berhenti menangis.

            
Saat anak-anak selesai menulis di papan tulis, mereka menyalinnya di buku tulis. Lalu kuminta mereka mengumpulkan untuk ku benahi tulisannya dan kuberi nilai. Rata-rata tulisan mereka sudah benar dan rapih kemudian aku beri nilai mereka dengan kisaran 70 sampai dengan 100. Mereka sangat senang, seperti baru pertama kali mendapatkan nilai itu. aku semakin senang dan bahagia dengan melihat ekspresi kepuasan mereka.

           

Setelah semua selesai menulis, ternyata Agung anak yang tadi merebut kamus temannya belum selesai menulis dan memasukkan bukunya ke dalam tas kemudian menangis sambil memarahi teman-temannya. Kuhampiri dan kutanya mengapa, ternyata karena teman-temannya yang antri mengumpulkan tulisan di depan meja guru menghalangi pandangannya yang sedang menyalin tulisan dari papan tulis sehingga ia kesal dan enggan menyelesaikan tulisannya. Setelah mengerti alasannya menangis, aku pun membujuknya agar mau menulis lagi. Teman-temannya pun ikut membujuk, sungguh anak-anak yang memiliki rasa tenggang rasa yang tinggi, aku bangga dengan mereka. Agung pun mengambil lagi buku tulis dari dalam tasnya dan melanjutkan menulis. Setelah itu ia kumpulkan padaku, tulisannya tidak banyak yang salah sehingga kuberi ia nilai 90.

            

Setelah semua selesai, kelaspun siap untuk dipulangkan. Mereka membereskan alat tulisnya dan berdoa kemudian memberi salam. Dari situ, aku mulai merasa sedih dan menahan tangis. Sambil memikirkan kapan aku bisa kembali kesini untuk bertemu dan mengajar mereka lagi. sepatah dua patah katapun aku sampaikan berikut dengan nasehat dan kata permohonan maaf juga terimakasih pun kusampaikan. Rasanya tak kuat untuk berpisah dengan mereka. Mereka masih mengharapkanku kembali mengajar mereka besok dan besoknya lagi. hmmm.. semoga sajaa..
           
Kelaspun dibubarkan dan waktunya berfoto lalu bersalam-salaman. Tangan-tangan kecil yang kugenggam erat, rasanya tak ingin kulepaskan. Ingin sekali aku menguatkan mereka disini, selalu mengispirasi dan membekali mereka dengan beragam ilmu. Sore hari saat aku bersantai ditempat kami bermukim selama di Ngadas, yaitu di kantor Balai Desa Ngadas aku berharap masih dapat melihat mereka sebelum kami kembali. Hmm.. tampaknya aku rindu dengan mereka dan akan selalu rindu sejak saat itu..

            

Sore hari itu, ada dua orang murid perempuan yang datang ketempat kami bermukim, mereka minta untuk diajari menulis sambung. Dengan senang hati aku yang dari tadi duduk kedinginan langsung mengajari mereka, kudiktekan mereka beberapa kalimat yang kemudian mereka tulis dengan tulisan tegak bersambung yang rapih. Mereka sangat aktif bertanya selama menulis “begini ya mbak?” itu pertanyaan yang selalu keluar dari mulut mungil mereka. Hmm… luar biasa antusias..  Setelah selesai menulis kalimat yang tadi kudiktekan, mereka kubuatkan PR untuk belajar di rumah. Cepat pintar yaa anak-anak…
            
Malam Minggu yang ramai, diiringi suara musik dangdut dan gamelan kami makan malam bersama dengan menu sederhana ala anak kost yaitu nasi mie lauk telor. Semakin lengketlah rasa kekeluargaan kami, tim merah. Setelah makan, waktunya untuk evaluasi kemudian tidur. Tidur kami hanya beralas tikar, tikar setengah lembab karena kondisi lantai yang berembun. Tidurku pun tak pulas, rasanya ingin segera pulang. Ditambah rasa dingin yang luar biasa menusuk tulang, belum lagi diluar hujan. Ohhh… lengkap rasanya. Tidurku terbangun sebanyak 3x. dan akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil duduk setelah batuk kodokku kumat. Hmm… begitulah kalau tidak kuat dingin jadi agak ribet…
           
Minggu pagi pukul 05.00 aku bangun dan harus segera beraktifitas, menggerakkan badan agar tak terasa lagi kedinginan. Rasanya ingin selalu dibalik mukena, tak ingin aku mencopotnya. Kabut pagi itu belum naik, pandangan pun jelas ke arah bekas pesta rakyat semalam yang masih berlanjut hingga keesokan harinya. Pukul 06.30 kabut mulai menutupi jalan dan membuat pandangan tak lagi leluasa, inilah ciri khas desa Ngadas, kabut sepanjang hari. Namun entah mengapa selama di Ngadas aku senang sekali cuci piring, meskipun airnya dingin seperti air freezertapi rasa ingin menyentuhnya selalu menagih seperti ingin lagi dan lagi.

            
Pukul 07.00 kami sarapan. Setelah  sarapan,  kami bersama-sama berkunjung ke rumah pak Kades dan Pak mantan Kades. Dari Bapak mantan Kades yang bernama Bapak Kartono, kami mendapat banyak informasi dan ilmu tentang budaya dan nilai-nilai kehidupan dari Desa Ngadas. Aku semakin bersyukur, ilmu dan pengetahuanku semakin bertambah selama di Desa ini.  Bapak Kartono dan masyarakat serta anak-anak Desa Ngadas sangat inspiratif. Bukan mereka yang belajar dariku, justru mereka yang banyak mengajariku.
            
Ketika waktu menunjukkan kira-kira pukul 09.30, kami bergegas pulang. Sepeda motor kami kembai dipaju dengan medan yang sama seperti Sabtu pagi namun dengan track menurun. Perjalanan terasa lebih cepat ketika pulang, tidak ada hambatan yang berarti. Hanya tubuh saja yang harus beradaptasi kembali dengan cuaca, setelah kedinginan lalu kepanasan. Hmm… sungguh luar biasa rasanya panas dingin. Kami pun sampai dengan selamat di tempat kami masing-masing kira-kira pukul 11.30. Itulah Sabtu dan Minggu luar biasa yang pernah aku alami dan tak akan pernah kulupakan seumur hidup.


Profil Pengajar Muda Angaktan 1:
Nama: Anys Luthfia Ulfa
TTL: Tulungagung, 28 Desember 1993
Study: S1 Pendidikan Informatika (FT) Universitas Negeri Malang
Alamat Asal: Lingkungan Rasabou Rt 014/007 Kel. Potu Dompu - NTB
Motto: Always Try To Be The Best and Never Give Up

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: