Recent posts

Cahaya Itu Ada!

November 10, 2014 0 Comments

“Cahaya itu tersibak
Cahaya itu mulai merekah
Dan, cahaya itu ternyata benar adanya.”

Ini akhir minggu yang ‘kece’, 7-9 November 2014. Ke-kecean itu berawal dari gazebo PTIK dan perjamuan dengan benda bernama Media. Kerekatan malam itu kami tenun dengan suka cita, canda tawa, dan ‘hujat dan menghujat’. Dilanjutkan dengan perjalanan malam-malam ke Jl. Surabaya, iman kami diuji dengan tergeletaknya uang lima ribu rupiah tak bertuan. Malam itu malam jumat, kami penuh kenyang dengan gorengan, mie ayam dan kebersamaan.

Jumat 7 November 2014, pukul 13.45 WIB, iman dan niat benar-benar diuji dengan rahmat Tuhan, hujan. Pertanyaan besarnya, bagaimana semangat kami? Akankah ini akan mengalir di parit bersama air hujan? Atau ini justru sebuah penyegaran? Seperti daun kering yang tersiram hujan? Tepat! Ke-kecean itu justru semakin terasa. Kami dekat, kami kompak. Terbukti, tawa itu masih menggelega di bibir kami J meskipun harus tersesat di jalan, kami bertahan! Pukul 18.46 WIB, kami sampai di Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Meski disambut dengan udara dingin menusuk-nusuk, tidak masalah. Semangat kami jauh lebih hangat hari ini. Fighting! Dilanjutkan briefing, serius! Tapi beginilah kami, tawa selalu nampang di pipi. Makan malam begitu menyenangkan. Tidur di tempat seadanya, ah! Tetap nyenyak meskipun harus terjaga beberapa saat karena saya sungguh penasaran dengan sumber suara aneh semalam, dari mana dan siapa ‘ngorok’ itu menyeruak malam-malam.

Sabtu 8 November 2014, membangun pagi dengan mata terbuka. Yang pertama kulihat adalah warna kemuning di langit sebelah timur. Keren! Sabtu ini KECE! Warming up! Senam penguin menjadi pengawalan kegiatan inti hari ini. Semangat? Pasti! Mendapat tugas mengajar kelas VI merupakan tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Tanggung jawab besar itu memacu saya untuk serius dalam membuat media, metode, sampai pesan-pesan yang benar-benar ingin saya tinggalkan untuk ini. Senyum ramah, suara renyah, dan rasa ingin tahu yang tinggi adalah kesan pertama yang saya dapatkan. 


Dari segi materi, saya kagum karena ternyata mereka jauh lebih baik dari apa yang mental saya persiapkan. Sedikit demi sedikit cahaya itu tersibak. Mendapati mereka sudah mampu menguasai beberapa kosa kata sederhana cukup sudah melegakan. Cahaya itu kian merekah ketika mendapati mereka sangat antusias berbahasa Inggris. Mereka menyukai. Paling tidak itu menjadi modal awal membuka untuk membuka jalan ke dalam kotak inspirasi yang ku doakan suatu hari nanti akan bersinar dengan tenang. Cahaya itu kian benar adanya.


Yes! Ini bukan hanya soal bagaimana anak-anak dengan mata polos itu membinarkan semangat saya pagi ini. Lebih dari itu, kadang yang paling kita perlukan bukan kemampuan semata, tapi kepedulian dan peka. Bagaimana kita peduli akan ada dan tidak adanya bahan cahaya di sini, tapi juga kepekaan membaca benih cahaya tersebut. Dengan 2 hal ini, mungkin tempat bernama Ngadas ±40 km dari kota yang kondang dengan pendidikan sebutlah Malang, akan benar-benar cerdas. Sekali lagi, Ngadas harus benar-benar cerdas.


Dalam sebuah perjalanan mencari, kadang memang ada yang harus dikorbankan, termasuk tenaga, waktu dan kesehatan. Begitupun ini, pencarian bernama jati diri. Karena memang begitu sudah hukumnya, mencari berarti juga memberi. Saya hanya anak kuliah biasa yang sering menunda pekerjaan, kadang rasa antara ingin mendapat ilmu di luar bangku kelas yang sedemikian meronta ingin direalisasikan, harus kalah dengan amanah orang tua yang menjadi kewajiban. Keegoisan yang kadang memang menuntut dipertahankan. Senin pekan depan, pengabdian itu lagi-lagi diuji tingkat keniatannya, meninggalkan kelas dan kembali ke Ngadas. Ikhlas! Kata yang mudah diucap, sulit dalam menyigap. Hanya mohon didoakan agar sehat selalu. Amin.

Cahaya itu benar nyata. Cahaya itu ada!

Kerabat, mari kita bertekad bulat. Sudahkah kau lihat cahaya itu di sini. Ya, di tempat ini benar ada cahaya, bahwa pada hari ini mungkin hanya berkedip sekali, tapi dengan apa yang kita lakukan hari ini, akan berpendar dan berpijar beberapa tahun lagi. Ngadas akan cerdas! Meski bukan kita yang akan menikmati, tapi rasa bangga adalah hal yang tidak akan terbeli dengan mata uang manapun. Semangat, mbak, semangat, mas, semangat, kerabat! Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dicatat Tuhan di langit-Nya sebagai manusia-manusia hebat. Tim Kuning Fighting!

Profil pengajar muda batch 2 :
Nama : Riana Atik Yustiana
Studi : S1 Pendidikan Bahasa Inggris / Fakultas Sastra

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: