Recent posts

Kesederhanaan Yang Istimewa

Juni 05, 2015 0 Comments



  Salam UMengajar  , perkenalkan saya Nur Annisa Widia Iswara, salah satu mahasiswi angkatan 2013. Melalui satu tahun bersama UMengajar memberikan saya banyak perubahan dan mengerti apa itu arti kesabaran dan kesederhanaan, sedikit cerita tentang UMengajar yang mampu membuat saya jatuh cinta pada organisasi ini .



  Dulu saya tidak tahu apa itu UMengajar, berawal dari seorang teman yang mengunggah poster pembukaan pendaftaran pengajar muda batch 2. Lalu saya mencoba kepo untuk mengetahui apa sih UMengajar itu ? apa saja sih kegiatannya ?, nah disitu saya membuka akun-akun media sosial yang tercantum pada poster pendaftaran yang ada, lalu setelah saya buka akun-akun yang ada itu saya tertarik untuk ikut mendaftar.

  Saat itu saya juga mengajak teman saya untuk ikut mendaftar juga, sayang sekali sebenarnya teman saya itu berminat untuk mendaftar, namun karena memiliki alasan tersendiri maka dia mengurungkan niatnya untuk ikut mendaftar. Proses pendaftaran yang mengharuskan kita sebagai pendaftar mengisi segala keperluan yang tercantum pada formulir, ada rasa minder dan ragu sebenarnya saat mengisi formulir , tapi saya hilangkan semua fikiran-fikiran negatif itu, dan setelah proses pengisian itu saya mengirimkannya. Tidak di sangka ternyata saya lolos tahap seleksi administrasi, setelah itu saya masih harus mengikuti serangkain tahap seleksi yang ada, ya memang cukup panjang.

  Awal masuk dan bergabung di UMengajar memang masih merasa canggung, namun seiring berjalannya waktu saya sangat menikmati semua itu, kekeluargaan, kekompakan, kerjasama team, dan masih banyak lainnya yang bisa di dapat didalam keluarga besar UMengajar ini.
Pengabdian pertama yang saya ikuti adalah menjadi pengajar ketrampilan bersama teman satu team saya untuk kelas 1 & 2 SDN Ngadas 1, kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang, sebuah desa di ketinggian 2200mdpl,  desa di Jawa Timur yang di tempati oleh suku Tengger dengan segala multikulturalnya.

  Pengabdian pertama yang sangat mengesankan, mengajarkan adik-adik kelas 1 & 2 untuk membuat sebuah mainan yang sangat sederhana, yaitu kincir angin yang terbuat dari gelas plastik bekas, wow ternyata meskipun mereka masih kecil tapi mereka sangat antusias saat proses pembuatan, yaaa namanya juga anak-anak di tengah-tengah proses pembuatan salah satu siswa laki-laki kelas 1 merebut milik temannya, entah apa alasan dia mengambil milik temannya itu, setelah kejadian kondisi kelas yang tidak terkendali karena kelas 1 & 2 gabung jadi satu, maka kami bergegas untuk menenangkan mereka, karena ada yang menangis dan juga sampai ada yang marah-marah. disitu lah kita belajar untuk bersabar mengahadapi mereka. Mereka yang luar biasa itu sudah berhasil kami tenangkan dan kami kembali membuat mainan itu, ketika sudah selesai kami mengajak mereka semua untuk keluar ke halaman sekolah untuk bermain bersama, kebahagiaan mereka menjadikan penyemangat tersendiri untuk kami.

  Mereka senang bisa membuat mainan itu sendiri karena sebelumnya mereka tidak mengerti bagaimana car membuatnya, karena begitu senangnya ketika pulang sekolah mereka membawa pulang kincir angin itu, ketika pulang ada salah satu siswa yang berkata “kak kincir angin ini boleh di bawa pulang ? karena saya ingin memberikan ini untuk adik saya”, jawab saya “  ia boleh kamu bawa pulang J “ , dia sangat senang dan segera berlari pulang dengan membawa kincir angin itu.

  Untuk pengabdian selanjutnya masih berada di daerah di kabupaten Malang, yaitu daerah Tangkilsari dan Randugading. Masih mengajarkan ketrampilan, di SD Tangkilsari 2 inilah yang memberikan kesan tersendiri bagi saya. Saat itu mengajarkan cara membuat anyaman ikan dari pita plastik pada adik-adik kelas 1, di antara teman-temannya ada satu anak yang sangat antusias membuat ikan ini. Namanya adalah Mia dia masih kelas 1, tempat duduknya berada di baris nomer 2 dari depan, gadis kecil yang memiliki antusias belajar yang tinggi, ketika proses pembuatan berlangsung, dia berbeda dengan teman-temannya yang lain, dia bertanya cara pembuatannya dua kali dan dia berusaha sendiri untuk membuatnya, ternyata dia berhasil membuat anyaman ikan tersebut, untuk tingat pemula hasil yang dibuat Mia ini sudahlah bagus.

  Sesudah kegiatan selesai, tiba-tiba Mia datang menghampiri saya dan berkata “ kak apa masih ada lagi pitanya ?”, “ia dik masih ada, apa kamu masih ingin membuatnya lagi ?” kata ku, “ ia kak saya ingin membuat anyaman ikan ini lagi dirumah” begitu jawabnya. Mendengar jawaban Mia dengan wajahnya yang gembira, menyadarkan saya betapa berharganya sebuah ilmu sederhana yang bisa membuatnya bahagia dan memberikan sebuah pengalaman yang baru untuk mereka.

  Sebuah hal sederhana yang bagi kita itu biasa saja, namun ketika kita membagikan hal sederhana  itu kepada mereka yang membutuhkan, akan merubah kesederhanaan itu menjadi hal yang istimewa bahkan bisa menjadi sangat istimewa. Membuat seseorang bahagia tidak harus dari hal yang istimewa, mulailah dari hal yang sederhana. Kesederhanaan mereka telah berubah menjadi istimewa untuk saya. Kepedulian kita terhadap mereka-mereka yang membutuhkan sangat di harapkan. Berilah sedikit inspirasi kepada mereka dari hal-hal yang sederhana yang kita miliki. Karena tidak semua memiliki kesempatan seperti kita. Bantu mereka untuk mewujudkan impian-impiannya.

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: