Recent posts

Makna Berbagi dan Mengabdi

Juni 03, 2015 0 Comments




 Saya Dian, volunteer UMengajar Batch 1. Ini adalah sekilas kisah mengapa saya bisa jatuh hati dan ingin terus mendidik bersama komunitas ini.




  Saya bergabung dengan UMengajar pada tahun 2014. Pada saat itu saya sedang  menempuh studi saya di semester keenam. Alasan saya bergabung dengan UMengajar tidak lain hanyalah untuk mendapatkan pengalaman mengajar. Namun, lebih dari yang saya harapkan, saya mendapatkan pengalaman hidup yang bermakna disini.

 Pengabdian pertama saya adalah di desa Ngadas, desa terpencil yang terletak di kawasan Bromo Tengger. Saya dan teman-teman mengajar di SDN 1 Ngadas. Kali pertama mengajar disini, saya benar-benar syok dengan tingkah polah para siswa. Mereka sulit diatur, senang berkelahi, dan selalu minta diperhatikan. Hampir saja saya menyerah, namun karena saya sudah berada di kelas, pada akhirnya saya tetap melanjutkan pelajaran. Saya mengajari mereka menyanyi dan memberikan games edukatif dengan menggunakan flash card. Anehnya, pembelajaran di kelas menjadi kondusif. Para siswa duduk dengan tenang sambil memandang keheranan pada media flash card yang saya bawa. Ternyata itu adalah kali pertama mereka mendapatkan pelajaran dengan game edukatif. Sontak, sebagai calon guru saya merasa miris. Disaat media-media tersebut sudah sangat umum bagi mereka yang bersekolah di kota-kota besar, ternyata hal itu merupakan hal yang sangat baru dan mengagumkan untuk mereka.

 Pengabdian saya selanjutnya adalah di desa Ngadiredo, Randugading, dan Tangkilsari. Semua desa itu terletak di kabupaten Malang. Beberapa bulan lalu, saya dan teman-teman mengajari para siswa SDN 2 Tangkilsari membuat Makram (Pot gantung). Mereka sangat antusias untuk belajar membuatnya. Lalu ada satu kejadian yang lagi-lagi membuat hati saya trenyuh. Sebelum pulang sekolah ada seorang siswi kelas 4 bernama Puput yang menghampiri saya. “Kak Dian boleh minta sesuatu?” ujarnya. Saya lalu menjawab, “Oh iya boleh. Minta apa?”. “Aku minta peluk kak Dian” pintanya. Lalu saya memeluknya. Saat saya sedang memeluknya, dia berkata kepada saya, “Makasih ya kak udah diajarin bikin pot, kapan-kapan kesini lagi ya”. Saya sangat terharu karena hal sekecil itu bisa sangat berkesan untuknya.

 Terkadang hal kecil yang kita anggap sepele bisa sangat berarti untuk orang lain. Terkadang anak didik di daerah terpencil tidak mampu belajar sebaik pelajar dikota besar, bukan karena ia bodoh, namun karena kurangnya fasilitas dan tenaga pendidik yang berkualitas. Tak perlulah kita sebagai mahasiswa muluk-muluk bercita-cita ingin membangun Indonesia, jika bahkan membangun daerahnya sendiri saja kita tak mampu. Mulailah dengan hal kecil, mulailah dengan mengabdi bersama UMengajar.

 

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: