Recent posts

Penyadaran di Desa Tertinggi Pulau Jawa

Juni 01, 2015 0 Comments




Salam kenal, saya Dhika Kusumaranti, Pengajar Muda batch 2 Umengajar yang telah 

menemukan arti berbagi ditempat ini.

  
  Sekitar 9 bulan yang lalu saya di ajak teman-teman saya untuk ikut serta mendaftarkan diri sebagai Pengajar Muda batch 2 Umengajar. Saya menolak dengan berbagai alasan klasik ala mahasiswa masa kini, banyak tugas, kuliah full, ada organisasi lain dan sebagainya. Namun sebenarnya saya hanya takut tidak bisa totalitas karena benturan kegiatan lain.  Tapi kegagalan mengikuti sebuah tes menuju salah satu negara impian, yang pada akhirnya malah menyadarkan saya untuk ikut Umengajar.  Ya Tuhan mengirimkan saya kesebuah tempat yang membuat saya bangun dari keegoisan. 

  Pengabdian pertama yang saya ikuti adalah menjadi pengajar bahasa Inggris dan keterampilan kelas 5, SDN Ngadas 1, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sebuah desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2200mdpl, desa dimana Suku Tengger dengan segala multikultural dan keunikannya tinggal. Sore hari setelah kegiatan belajar mengajar dilaksanakan, kami bermain bersama seluruh pengajar muda, kakak pendamping dan siswa-siswi SDN Ngadas 1. Waktu itu kami bersendau gurau bersama, mencoba menerbangkan layangan buatan mereka saat KBM tadi pagi meski sering gagal karena tempat kami penuh kabut, bermain permainan tradisional hingga mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen, kadang juga ada beberapa anak yang penasaran dengan DSLR yang saya pegang dan minta diajari bagaimana cara mengambil foto. 

  Di sela-sela momen berfoto itu, ada salah satu siswa yang  menepuk lengan saya dari belakang, lalu saya menoleh dan anak itu tiba-tiba menyodorkan tangannya, dia bilang “Mbak Dhika, terimakasih ya, kapan-kapan kesini lagi ya?”. Dengan mata berkaca-kaca saya menjabat erat tangan kecilnya dan bilang  “Iya, sama-sama, belajar yang rajin ya, nanti Mbak kesini lagi”. Seketika saya terdiam beberapa saat dan menemukan bahwa hal-hal kecil yang menurut saya sangat biasa, hal-hal yang memang tidak istimewa, bahkan hal-hal yang menurut saya bukanlah hal yang patut di anggap lebih, bagi mereka itu adalah hal yang sangat luar biasa. Seperti hal-hal baru yang kami pengajar muda berikan saat di kelas, kegiatan bermain bersama, hingga cara mengambil foto dengan kamera DSLR. 

  Kata-kata anak tadi yang menyadarkan saya tentang berbagi, bahwa saat ini banyak sekali keberuntungan yang telah saya dapatkan namun belum di dapatkan anak-anak lain. Keberuntungan untuk bisa bersekolah hingga perguruan tinggi, hidup di kota yang serba ada dan merasakan segala kemudahan yang memang disuguhkan. Ya mungkin jika waktu itu saya lolos tes keluar negeri, saya tidak akan pernah mendaftar Umengajar. 

  Tuhan mengingatkan saya di tempat ini, bahwa negeri ini butuh orang-orang baik untuk terus memberikan sumbangsih dan berbagi keberuntungan. Tuhan menepuk saya dengan halus dan memalingkan wajah saya pada potret asli negeri ini. Saya dibuatNya untuk tidak mementingkan keegoisan melihat negeri impian, namun saya dibuatNya tergerak membantu anak-anak lain mewujudkan impian-impian sederhana mereka.

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: