Recent posts

Terimakasih UMengajar

Juni 23, 2015 0 Comments



Ngadas, desa yang tak pernah terpikirkan olehku seperti apa tempatnya, keadaan cuacanya, dan bagaimana karakter anak disana. Dalam bayangku, semuanya akan sama saja seperti tempat-tempat biasa lainnya. It turned out I was totally wrong.

 Aku Evi, salah satu volunteer di UMengajar, komunitas peduli pendidikan yang ada di Universitas Negeri Malang. Rasa senang yang tak terdefinisikan menyelimutiku saat pertama kali aku secara resmi diterima menjadi bagian kecil dari UMengajar.  Dan, pengabdian pertama pun dimulai. SDN 01 Ngadas yang terletak di kaki Mahameru  menjadi tempat pengabdian pertama kami.



Saat itu, aku tergabung dalam tim merah. Tim yang akan melakukan pengabdian pertama. Kami berangkat pada Jum’at sore dengan mengendarai sepeda motor. Dengan berbekal semangat yang menggebu kamipun berangkat menuju Ngadas. Diperlukan sekitar 2 jam perjalanan untuk sampai didesa tujuan kami, Ngadas. Setelah setengah jam perjalanan kami lalui, semuanya masih aman-aman saja. Jalanan mulus dan udara sejuk masih bisa kita nikmati. However, semua kenyamanan itu tak bertahan lama dan perjuangan yang sesungguhnyapun dimulai. Jalanan mulai menanjak dan tidak rata, banyak jalanan yang belum di aspal dan berbatu. What makes it worse, udara dingin mulai menghampiri, menembus setiap serat jaket yang kukenakan. Mungkin, tak hanya aku yang merasakannya, rekan-rekan se-pengabdianpun, kurasa merasakan hal yang sama.

1 jam perjalanan pun berlalu, dan jalanan semakin menanjak dengan jurang yang curam disisi kiri dan tebing yang menjulang tinggi disisi sebelah kanan, can you imagine that?.  Tak kupungkiri, nyali dan semangatku menciut saat itu. Entah kita bisa sampai di Ngadas dengan selamat atau tidak, sebab aku belum pernah melakukan perjalanan sebahaya ini. Tapi satu hal, which makes this dangerous trip interesting, semakin menanjak jalan yang kita lalui, semakin indah pemandangan yang disuguhkan oleh sang alam. Tak henti-hentinya hati ini berucap “subhanallah”. At that time, I realized, Allah is always by our side. Dan dengan sepenuh hati saya meyakini Allah melindungi orang-orang yang mempunyai niat baik, niat beribadah kepada-Nya.

Selang beberapa waktu, finally we did it, kita sampai di Ngadas. Aku terdiam sejenak, menatap sekelilingku, merasakan setiap desau angin dingin yang seakan-akan menyambut kedatangan kami. And I admitted, aku terbius pesona Ngadas. It was like a dream! Tepat didepan kedua mata kepalaku sendiri, aku dapat menikmati kemegahan Mahameru, puncak tertinggi di Jawa, dikelilingi segerombolan cumulus. Tiba-tiba dari dalam ruangan, ada seseorang yang memanggil namaku, akupun tersentak dari lamunanku dan memutuskan untuk masuk ke dalam penginapan yang sudah disediakan oleh kepala desa Ngadas.
Setelah makan malam dan menunaikan ibadah sholat isyak, kami mempersiapkan media belajar yang akan kami ajarkan kepada anak-anak besok. Aku dan satu rekan ku, mbak Novi, bertugas mengajar anak kelas 5. Tak ada sedikitpun bayangan tentang bagaimana karakter anak-anak kelas 5 yang akan kami ajar besok. Dibenakku, aku hanya memikirkan hal-hal menyenangkan yang akan kami alami besok bersama anak-anak Ngadas.

Pagipun tiba, aku dan rekanku mempersiapkan semua media belajar dan siap memasuki ruang kelas. Sesampainya kami dalam kelas, suasana ramai menyapaku dan rekanku. Beberapa dari mereka menarik lenganku dan mengajakku bermain diluar, sebagian mengajak untuk pulang, dan sebagiannya lagi sibuk dengan dunia mereka sendiri. It’s extremely chaos, yet I had to be able to control them immediately at that time. Aku dan mbak Novi, begitu aku memanggil rekanku, mencoba untuk mengkondisikan mereka. Setelah memperkenalkan diri, aku dan mbak Novi memulai pelajaran pertama, yakni Bahasa Inggris.

Sesuai ekspektasiku, semangat mereka perlahan luntur ketika aku berkata “ Baik adik-adik, hari ini kita akan belajar Bahasa Inggris”. Sekilas kutangkap beberapa wajah lesu mereka. “Siapa yang suka Bahasa Inggris?” aku mencoba bertanya. Kulihat hanya 2 anak yang mengangkat tangannya, namun semua itu tak mampu mematahkan semangatku. Aku mulai mengeluarkan media belajar yang sudah kubawa, beberapa papan beserta potongan-potongan puzzle, beberapa buah gunting, dan double tape. Surprisingly, mereka berhamburan mendekatiku dan hampir secara bersamaan bertanya apa yang aku bawa dan akan belajar tentang apa. Aku dan mbak Novi mencoba menjelaskan kepada mereka dengan bahasa informal yang mudah mereka pahami. Antusias mereka mulai kurasakan.

Ditengah asyiknya menjelaskan, seorang anak mengacungkan tangannya dan bertanya “ Miss, double tape itu apa? Gimana makenya, Miss?”, aku tertegun sejenak dan mulai menjelaskan kepadanya apa dan bagaimana cara menggunakan double tape tersebut. Perhaps, sebagian orang akan berpikir bahwa double tape merupakan barang yang tidak begitu penting, apalagi di zaman IT seperti sekarang ini. Tapi bagi anak-anak Ngadas, it’s like a new invention. Merekapun semakin bersemangat, sampai-sampai kita melewatkan jam istirahat. Akhirnya, aku dan mbak Novi memutuskan untuk melanjutkan ke materi pembelajaran berikutnya, yakni membuat hastakarya.

Selang beberapa waktu, ketika semua anak kelas 5 asyik membuat hastakarya bersama kelompoknya masing-masing, Dharma, salah satu anak kelas 5, mengacungkan tangannya sembari berkata “Miss, kelompokku sudah selesai, boleh pulang duluan?” “Tunggu teman-teman yang lain selesai ya Dharma. Lagipula, ini belum waktunya pulang”, jawabku. “Tapi, saya harus ngojek Miss, jadi harus pulang sekarang.” kata Dharma lagi. Aku tertegun mendengar perkataan anak berusia 12 tahun itu. Belum sempat aku menanggapi pernyataan Dharma, seorang anak yang sedari tadi duduk disampingku berkata “Iya Miss, dia ngojek pupuk.” Ujarnya, membenarkan perkataan Dharma. Karena rasa ingin tahuku, aku pun mendekati Dharma dan bertanya “Ngojek buat apa?. Kamu kan masih sekolah.” “Buat bantu bapak sama ibu, Miss. Ya, paginya sekolah, siangnya ngojek.” jawab Dharma. Hatiku terenyuh mendengar jawabannya. Aku terdiam beberapa detik dan terlintas dibenakku: I’ll never know what the future bring, but whatever it is, I hope it’ll be the best for them. “Ya sudah sebentar lagi pulang kok” jawabku.

Gradually, pembelajaran hari itupun selesai. Unfortunately, bukan aku yang mengajari mereka. Bukan. On the other hand, merekalah yang mengajariku tentang banyak hal. Mereka mengajariku nikmatnya mensyukuri segala sesuatu yang aku miliki sekarang. Mereka mengajariku indahnya berbagi. Mereka mengajariku untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka mengajariku untuk lebih mencintai hidup.

Semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak yang kita dapatkan. That’s the moral value. Tapi, ini semua bukanlah akhir, ini adalah awal untuk memulai semuanya. Sabtu, 31 Oktober 2014 menjadi salah satu bagian terbaik dalam hidupku. Terimakasih Umengajar sudah memberikanku kesempatan untuk mengenal anak-anak istimewa seperti mereka. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk berbagi keberuntunganku dengan mereka. Terimakasih sudah memberiku kesempatan menjadi orang yang berguna bagi mereka. Terimakasih Umengajar.    

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: