Recent posts

Sekolahku Di Atas Awan

Agustus 01, 2015 1 Comments

SEKOLAHKU DI ATAS AWAN

Bermimpilah setinggi langit, kalaupun jatuh masih ada awan yang menangkapmu”

Kalimat yang selalu terngiang ditelinga ketika aku mulai goyah untuk melakukan sesuatu. Memang sih hanya terdiri dari beberapa kata tapi sungguh banyak arti terkandung di dalamnya. Kalimat itu terucap dari seorang guru yang tak sengaja mendengar salah satu muridnya takut untuk berkata AKU INGIN MENJADIII ??? APA ??? mungkin setelah mendengar kalimat itu sang murid bisa mengganti kata “APA”  menjadi sebuah impian yang akan ia kejar terus sampai berhasil ia dapatkan.

Tak terasa setelah sekian lama ternyata aku juga pernah berada pada masa itu sebelumnya. Aku takut untuk berucap impian yang ingin aku capai nantinya, bukan takut karena dimarahi guru jika salah tapi rasa takut ketika aku tidak bisa mencapai impian itu. Tak gentar aku terus melawan dan terus melawan rasa takut itu hingga saat ini, saat dimana tidak semua orang bisa merasakan berada di titik ini. Meskipun bukan titik dimana aku bisa melihat dan mendapatkan segalanya yang aku inginkan. Oke lanjuuuut !!!

MaBa gelar itulah yang aku dan teman-teman dapat ketika pertama memasuki gerbang besar yang pada saat itu tak tahu dimana ujungnya. Yaa MaBa !!! Mahasiswa Baru yang belum tahu tentang asam manisnya dunia perkuliahan. Aku yang masih menikmati masa-masa kejayaan bergelut dengan buku-buku dan materi kuliah baru, teman-teman baru dan semua yang serba baru. Semester pertama lewaaaaat !!!  lanjoooot ke semester dua. Pada saat di semester inilah timbul pergejolakan hati ketika aku hanya menjadi mahasiswa “KUPU-KUPU” yaaa KUPU-KUPU (Kuliah Pulang – Kuliah Pulang) pasti kalian nanti juga akan merasakannya wahai MaBa. Iri rasanya melihat teman-teman yang lain sibuk dengan aktivitas kampus seperti HMJ, BEM, UKM dan lain-lain. Tapi tak ada tarikan magnet yang mampu menarikku untuk nyemplung disalah satu kegiatan kampus yang aku sebutkan tadi.

Iseng-iseng saat aku buka facebook keluar diberanda Open Recruitment Volunteer Batch 2 UMengajar. Sebelumnya aku pernah mendengar tentang UMengajar tapi tidak begitu tahu kegiatannya seperti apa. Tak menunggu begitu lama aku langsung mencari tahu tentang UMengajar. Sebelum pendaftaran ditutup tak ragu aku langsung mengirim formulir pendaftaranku. Setelah menunggu beberapa hari dan melewati beberapa tahapan tes tentunya, bersyukur Alhamdulillah akhirnya aku lolos.

It’s time !!! Sebelum kita berangkat pengabdian kakak-kakak batch sebelumnya memberikan gambaran tentang keadaan anak-anak disana tepatnya SDN Ngadas 1 dan tidak hanya itu juga Tim Kuning sudah kembali dari pengabdian. Mereka berbagi cerita dengan kita. Woaaah mendengar cerita dari mereka sungguh menakutkan tapi itu tak membuatku gentar. Pengabdian pertamaku sebagai volunteer pun dimulai tepatnya aku mengajar kelas satu dan dua bersama ketiga rekanku. Dengan selesainya pengabdian itu semua, aku tahu darimana rasa takut yang timbul dari teman-teman yang telah merasakan pengabdian sebelumnya. Rasa takut itu timbul karena tempat pengabdian kita yang melewati bukit-bukit dengan jalan yang begitu terjal nan berkelok-kelok ditemani jalan yang tak beraspal, hawa dingin yang menusuk sampai ketulang pada malam hari dan paginya disuguhi dengan kelakuan adik-adik kecil di SD Ngadas 1 yang menambah kekomplitan pengalaman pengabdian jilid pertamaku. Tapi di sekolah ini kita disungguhi pemandangan dari ketinggian 2200 mdpl yang sungguh indah dan tak membuatku menyesal sedikitpun datang kesini.


Pengalaman pertama pengabdian yang tidak akan pernah terlupakan ketika aku merasakan sendiri bagaimana suka dukanya menjadi guru untuk anak kelas 1 dan 2. Tetapi pada pengabdian jilid 2 ketika aku ditempatkan di SDN Randugading dan mengajar kelas 1 bersama salah satu rekanku, disinilah aku merasa bahwa aku lebih dan lebih malah jika bisa dikatakan aku beruntung dapat bersekolah ditempat yang layak. Pertama kali aku masuk ke kelas langsung terucap di hati “Kok cilik-cilik bangeeets”. Ternyata telusur punya telusur di daerah ini belum ada sekolah TK jadi orang tua menitipkan anaknya di sekolah SD karena orang tua mereka pergi bekerja di sawah. Malah saat itu ada salah satu siswa yang membawa adiknya sekolah karena tidak ada yang menjaga di rumah. Setelah itu aku mengajari mereka untuk membuat gelang dari benang eehh kayaknya bukan benang tapi lupaa namanya. Ku jelaskan tahap-tahap pembuatannya mulai dari awal lalu masing-masing mereka mencoba membuatnya.

Tak berapa lama sudah ada salah satu murid yang dapat membuat gelang dengan bagus. Tiba-tiba dari belakang ada siswa yang menarik bajuku dan meminta aku untuk mengajarinya membuat gelang. Ku ajak anak itu duduk di lantai yang sebelumnya sudah di beri tikar “blaaaa blaaaa blaaaa ku jelaskan mulai dari awal sampai akhir” and you know what ??? ternyata dia tidak begitu bisa bahasa Indonesia oohhhh my god gue salah bahasa. Maklum memang anak-anak disana tidak begitu mengerti bahasa Indonesia ataupun bahasa jawa karena disana bahasa yang digunakan adalah Madura. Berhubung aku tidak bisa bahasa madura jadi aku meminta bantuan pada anak yang sudah bisa membuat gelang tadi untuk mengajari si kecil disampingku ini. Setelah itu I have a new goal ? What ? gue harus bisa bahasa Madura.hehehehe

Sungguh banyaaaak banget hal-hal baru yang aku dapatkan ketika volunteer disini mulai dari pengalaman menjadi guru yang sebenarnya itu seperti apa, mendaki gunung lewat di lembah#NinjaHatori mempertaruhkan nyawa demi bertemu adik-adik di tempat pengabdian, bertemu keluarga baru dan masih banyak lainnya. Memang ketika memilih sesuatu dengan hati melakukannya pun tak akan setengah-setengah. Kayaknya ini sudah cukup deh so ini ceritaku mana ceritamu ??

-Gery Dwi Putranti- 


UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

1 komentar: