Recent posts

Nasionalisme, Pendidikan, Dan Pengabdian Kunci Pemuda Hadapi Degradasi Moral Masyarakat (Peringkat 5)

Maret 01, 2016 , , 0 Comments



Nasionalisme, Pendidikan, Dan Pengabdian Kunci Pemuda Hadapi Degradasi Moral Masyarakat
Peringkat 5 Lomba Penulisan Esai UMengajar 
Oleh Ruri Ajeng dari Universitas Brawijaya 

Delapan puluh dua tahun silam, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia menorehkan satu peristiwa bersejarah dimana para pemuda dan pemudinya mengikrarkan untuk bersumpah bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah itu kemudian dikenal dan selalu diperingati sebagai hari nasional Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut bukan sekedar peristiwa yang senantiasa hanya untuk diingat ataupun dikenang. Tetapi, peristiwa itu akan senantiasa menjadi bukti abadi dari persatuan dan kesatuan para pemuda-pemudi Indonesia. 




berikan aku 1000  orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” (Ir. Soekarno) . 


Tidak hanya peristiwa sumpah pemuda yang dinobatkan sebagai simbol dari kesatuan dan persatuan pemuda Indonesia, dalam kutipan pidato Ir. Soekarno diatas juga menyebutkan secara spesifik betapa penting arti satu orang pemuda bagi dirinya dan bagi negara Indonesia khususnya. Pemuda-pemudi Indonesia dianggap sebagai penentu akan kejayaan atau kehancuran dari suatu bangsa itu sendiri. Kontribusi dari satu orang pemuda dianggap mampu untuk mengguncangkan dunia sekalipun itumerupakan hal yang dianggap mustahil. Peristiwa sumpah pemuda sendiri kemudian menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran pemuda Indonesia dalam membangun dan mempertahankan negaranya dari serangan kaum penjajah 3,5 abad silam. Pemuda menjadi kunci tonggak dari lahirnya persatuan dan kesatuan bangsa karena mereka adalah generasi emas yang akan menentukan nasib dari bangsanya sendiri. 

Indonesia menjadi satu negara surgawi yang memiliki limpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Memasuki era reformasi, dimana kebijakan-kebijakan pemerintah di berbagai sektor dianggap merugikan rakyat dan membuncah pada suatu peristiwa pemberontakkan yang dipelopori oleh mahasiswa di tahun 1998. Rakyat mengalami dilematisasi moral bahkan krisis sosial akibat ketimpangan ekonomi yang melanda sepanjang tahun 1997-1998. Krisis sosial ini juga dapat dilihat dari adanya kebebasan pers yang makin meningkat di era reformasi apalagi setelah pemerintah membuka kran ijin didirikannya televisi swasta pada tahun 1989. 

Kita semua mengetahui bahkan memahami bahwa peran media di hidup dan kehidupan sosial sangat penting dalam menyalurkan berbagai informasi terkait kehidupan lokal maupun internasional. Dewasa ini, media televisi secara khusus menjadi salah satu media interaktif yang paling mudah didapatkan dan dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Apalagi setelah Ir. Soekarno membuka kran ijin televisi swasta masuk ke Indonesia, disaat itulah banyak stasiun televisi swasta yang bersaing untuk menayangkan berbagai program unggulan mereka di layar televisi. 

Zaman yang senantiasa terus berkembangan dalam lingkup globalisasi dan modernitas menimbulkan suasana baru di bidang jurnalistik baik media cetak, media online bahkan media televisi. Tayangan-tayangan yang disuguhkan dalam setiap siarannya pun kini tampil dalam berbagai macam genre, baik bergenre berita, musik, kartun, hiburan dll. Dimulai dari siaran berita yang awalnya menjadi prioritas tayangan di televisi, tergeser dengan hadirnya genre siaran yang menghadirkan cerita-cerita fiksi berbentuk sebuah sinetron. Kehadiran berita pun kerap bersaing saat televisi mulai menciptakan genre siaran berita yang lebih bernuansa santai dan meliput kabar dari orang-orang yang kerap dijadikan idola. Kalangan anak-anak masa kini pun disuguhkan dengan tayangan-tayangan film kartun animasi yang hadir hampir di setiap jamnya. Untuk selanjutnya, televisi mempunyai tempat dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam menikmati program-program yang disuguhkan. Aktifitas menonton yang biasanya dilakukan hanya untuk memperoleh informasi penting terkait suatu kondisi, saat ini dilakukan secara kontinue bahkan cenderung menjadi habitus.

Media televisi yang saat ini hampir dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat bahkan kerap menembus batas usia, nyatanya membawa keresahan tersendiri bagi para akademisi dan pengamat media. Televisi tidak hanya dipandang sebagai sebuah alat yang dapat dengan mudah menyalurkan berbagai informasi, tetapi kemudian televisi dianggap sebagai salah satu institusi yang turun berperan secara aktif dalam pembentukan nilai-nilai kepribadian seorang individu. Program televisi sendiri lahir dari sebuah gagasan dan merupakan hasil dari pilihan manusia, keputusan budaya serta tekanan sosial. Program-program yang disuguhkan sesungguhnya juga merupakan hasil dari respon atas kondisi-kondisi yang meliputinya. Dewasa ini, Indonesia dihadapkan kepada satu status yang menjadikan televisi sebagai komoditi penghasil materi cukup besar dalam ekonomi kapitalis. Untuk itulah, pada akhirnya televisi cenderung menghadirkan orang-orang yang memiliki otoritas untuk tampil bahkan merealisasikan tujuan mereka dalam tayangan program-program televisi. 

Di Indonesia sendiri, dunia pertelevisian yang semakin berkembang pesat dibuktikan dengan munculnya banyak program tayangan berbagai genre. Namun, sungguh sangat disayangkan beberapa dari program-program tersebut justru malah menghadirkan tayangan yang sarat akan degradasi moral dan kualitas. Sebut saja jika pada tahun 90-an tayangan program televisi anak masih sangat dipenuhi oleh berbagai kartun, di era 2000-an perlahan tayangan program kartun tersebut mulai surut. Tayangan program kartun mulai tergantikan dengan program-program sinetron dewasa tidak layak tonton usia anak-anak. Jika pada tahun 90-an program berita menjadi suatu hal yang menarik untuk disaksikan karena menyajikan informasi terkait lokal maupun internasional, namun dewasa ini tergantikan dengan acara reality show, talk show dll yang menyajikan informasi terkait orang-orang yang memiliki otoritas dan cenderung di idolakan. 

Transformasi tayangan televisi yang semakin berubah tentu menimbulkan kegelisahan tersendiri terutama di sektor pendidikan moral. Penonton (audience) terutama anak-anak tidak sepenuhnya pasif dalam menangkap segala hal yang mereka lihat di tayangan televisi. Mereka bahkan dapat secara aktif dalam waktu yang singkat melakukan proses internalisasi yaitu mengolah segala apa yang mereka lihat dari siaran program tayangan televisi untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saat yang mereka lihat adalah program-program berbasis sinetron dewasa maka, bukan tidak mungkin nilai-nilai yang dikandung dalam program tersebut akan diaplikasikan oleh anak-anak. Saat yang mereka lihat adalah program-program berbasis kekerasan dan kejahatan bukan tidak mungkin juga nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Untuk itulah, tayangan program televisi dianggap sebagai faktor yang cukup berpengaruh terhadap pembentukan moral dan perilaku penonton.

Bukan suatu hal yang aneh jika dewasa ini berita-berita televisi kerap menyiarkan kriminalitas-kriminalitas yang sudah dapat dilakukan oleh anak-anak. Hal ini kiranya menjadi salah satu akibat negativ dari apa yang mereka lihat di program tayangan televisi. Tidak hanya anak-anak, program televisi yang kini secara umum menampilkan program-program berbasis percintaan tentu sangat digemari oleh kalangan remaja. Hal ini menjadikan remaja-remaja sekarang bersikap hyper-realitas terhadap kenyataan sebenarnya. Remaja-remaja hidup dalam bayangan keadaan dan kerap berperilaku persis meniru seperti apa yang mereka lihat di tayangan program televisi. Romantisme para remaja dahulu dan sekarang sangat berbanding kontras jika diperbandingkan. Untuk itulah banyak sekali remaja-remaja sekarang yang tidak dapat mengendalikan diri mereka sehingga terjerumus dalam pergaulan bebas. 

Keadaan yang semakin menunjukkan adanya degradasi moral akibat tayangan program televisi harus disembuhkan secara perlahan. Degradasi moral yang sudah merambah ke dunia anak-anak dan remaja jika tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah, kalangan pendidik, bahkan keluarga akan menjadi bumerang yang dapat mengahncurkan bangsa Indonesia di kemudian hari. Para pemuda sebagai generasi penerus yang kelak akan menentukan nasib bangsanya sendiri harus menjadi kunci awal dari sebuah perubahan. Para pemuda harus bangkit untuk membuat suatu perubahan demi memperbaiki keadaan moral bangasanya. Di tangan para pemuda citra moral masyarakat Indonesia yang dikenal baik dan santun harus diperbaiki. Untuk peranannya yang sangat penting inilah mengapa setiap dari pemuda-pemudi Indonesia harus memiliki rasa dan sikap nasionalisme yang tinggi  untuk tetap menjaga kedaulatan negara Indonesia. Jika moral bangsa Indonesia sudah dapat dengan mudah di setir oleh program televisi lewat orang-orang yang memiliki otoritas dan tujuan tertentu didalamnya, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan mengalami satu kali lagi masa penjajahan seperti 70 tahun silam. 

Banyak hal yang menjadi tanggungjawab para pemuda-pemudi Indonesia untuk tetap mempertahankan moral bangsa Indonesia yang terkenal baik dan santun di seluruh penjuru dunia. Salah satunya, memperkuat rasa dan sikap nasionalisme atau cinta tanah air. Sikap ini menjadi landasan utama karena dengan mencintai tanah air berarti para pemuda-pemudi tersebut telah berproses untuk berjuang dan menjaga dengan segenap jiwa raga tanah airnya sendiri. Sikap nasionalisme ini  kemudian harus didukung dengan sikap memiliki intelektualitas tinggi menjunjung pendidikan. Pendidikan yang cukup dan berkualitas tinggi menjadi syarat mutlak yang harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa membeda-bedakan kalangan. Pendidikan yang cukup dan berkualitas tentunya dapat menjadikan masyarakat Indonesia lebih bermartabat dan bermoral baik, sehingga tidak dengan mudah terjatuh dalam rayuan orang lain terutama lewat tayangan program televisi. Sikap terakhir yang harus dimiliki oleh para pemuda-pemudi Indonesia adalah pengabdian atas apa yang telah mereka miliki baik dari segi materi maupun dari segi keilmuan. Melalui pengabdian yang dilakukan, para pemuda-pemudi Indonesia secara langsung akan mengetahui bagaimana dan apa yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Melalui pengabdian secara otomatis juga mereka dapat membuat suatu perubahan menuju ke arah yang lebih baik, seperti memperbaiki degradasi moral yang kini marak terjadi di kalangan anak-anak dan remaja.







UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: