Recent posts

PEDULI, MENGABDI ATAU ROYALTI ? (Peringkat 4)

Maret 01, 2016 , , 0 Comments

PEDULI, MENGABDI ATAU ROYALTI ? 
Peringkat 4 Lomba Penulisan Esai UMengajar 
Oleh Yovita Indriya dari Universitas Gajahmada 


Proses Metamorfosa Seorang Remaja
Sejak kita merasakan bangku sekolah dasar, kita pasti mulai dikenalkan pada sebuah kata ‘remaja’. Ya, tentunya pelajaran ini sering sekali diajarkan sebagai bekal dan persiapan kita nantinya sebelum kita menginjak pada level usia yang lebih tinggi. Pada dasarnya, kata ini berasal dari sebuah Bahasa Latin yang disebut adolescence, yang memiliki arti ‘tumbuh’. Namun, meskipun demikian, kita tidak akan benar-benar mengerti tentang apa arti seorang ‘remaja’ sebelum benar-benar menjadi remaja yang sesungguhnya.
Ketika kita mulai memasuki fase remaja itu sendiri, kita akan merasakan bahwa masa remaja adalah masa paling sensitif dalam kehidupan manusia. Dalam masa ini, seseorang sudah tidak tergolong sebagai kategori anak-anak lagi. Namun, usia ini juga belum dapat dikatakan sebagai kategori yang disebut ‘dewasa’. Fase ini hanyalah merupakan sebuah fase peralihan.

Menjadi seorang remaja dapat berarti membuat kita menjalani masa relative kehidupan. Disebut sebagai masa yang relative karena pada masa inilah sering terjadi perilaku tidak pasti yang ditimbulkan oleh remaja itu sendiri. Pada fase ini, para remaja mulai bertindak seolah-olah memiliki pemikiran yang mulai rasional, namun mereka belum sepenuhnya dapat meninggalkan sifat kekanak-kanakan mereka. Akan tetapi, hal ini merupakan proses yang wajar karena pada dasarnya, proses ini merupakan pencarian jati diri mereka yang sesungguhnya. Hanya sayangnya, terkadang masih banyak remaja yang belum dapat menemukan jati diri mereka yang sebenarnya dan justru cenderung menyebabkan remaja menjadi bingung akan apa yang harus mereka lakukan.

Awalnya, seorang remaja tentunya belum memahami bagaimana suatu nilai dan pengetahuan moral yang baik. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya, remaja peralihan ini akan mulai belajar mengenai berbagai aspek kehidupan yang berkaitan dengan nilai, moral, dan sikap. Sehingga lingkungan akan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan nilai dan norma tersebut.

Globalisasi dalam Pengaruhnya pada Lingkungan Remaja
Seperti yang kita ketahui, lingkungan akan menjadi salah satu faktor yang kuat dalam membentuk karakter remaja itu sendiri. Hal ini dikarenakan remaja kerap kali labil dalam menentukan jati dirinya sendiri, sehingga mereka lebih cenderung untuk mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dalam hal ini, tentunya lingkungan yang baik akan menjadi salah satu tolak ukur untuk dapat membentuk karakter seorang remaja agar dapat mengikuti jalan yang baik pula. Namun sebaliknya, lingkungan yang buruk justru akan menjerumuskan mereka ke arah yang berwalanan, meskipun hal tersebut terjadi tanpa mereka sadari.
Di era globalisasi yang serba modern, tentunya bukan menjadi suatu hal yang aneh lagi apabila sekarang banyak masyarakat, terutama para remaja yang notabene mengutamakan sikap ‘kekinian’ itu menjadi terlena oleh banyaknya kemudahan yang di dapatkan dengan adanya budaya yang mulai menjamur pada abad ke-20 ini. Dalam hal tersebut, kemudahan dapat dikatakan sebagai suatu proses yang baik. Siapa yang tidak menginginkan kemudahan dalam setiap proses yang kita lakukan? Untuk apa melakukan hal yang rumit jika bisa mendapatkan yang mudah? Kemudahan ini juga dirasa sangat bermanfaat terutama dalam mempersingkat waktu sehingga akan menjadi jauh lebih efisien.

Salah satu contoh manfaat-manfaat tersebut dapat kita lihat pada kemajuan teknologi akibat adanya globalisasi. Melalui kemajuan teknologi, kita dapat berkomunikasi jarak jauh dengan orang yang berada di luar negeri sekalipun, cukup dengan menekan nomor yang ada pada telepon genggam (handphone) yang kita miliki. Bahkan, dengan adanya kemajuan ini, kita dapat mengetahui segala macam informasi hanya dengan membuka browser internet pada handphone kita pula. Apalagi, pada masa globalisasi, kita selalu dituntut untuk berkejaran dengan waktu. Segala sesuatu yang efisien, cepat dan praktis itulah yang utama. Sehingga, telepon genggam atau handphone yang sering kita singkat dengan HP ini bukanlah lagi suatu kemewahan, melainkan suatu kebutuhan.

Akan tetapi, seperti layaknya seperti 2 buah sisi mata uang yang sangat berbeda antara satu sisi dengan yang lainnya, Globalisasi ini pun juga memiliki dampak yang negatif bagi para remaja. Sebagai contohnya adalah pengaruh dari teknologi yang kian hari semakin canggih. Awalnya, kemajuan teknologi seperti handphone dapat memberi kemudahan bagi para remaja. Namun sayangnya, kemudahan itu justru menjadi boomerang bagi mental remaja itu sendiri. Pasalnya, kemudahan itu secara tidak langsung membentuk mental remaja untuk menjadi malas. Secara nyatanya, berbagai contoh dapat kita dapatkan dengan mudah hanya dengan memperhatikan kejadian-kejadian kecil yang ada di sekitar kita. Misalnya saja saat kita menunggu di halte bus atau stasiun kereta api. Sebelum adanya handphone dengan berbagai kecanggihan di dalamnya ini, kebanyakan orang yang akan memilih untuk mengobrol atau setidaknya sekedar bertegur sapa dengan orang di sekitarnya sambil menanti transportasi penjemput mereka itu datang. Namun sekarang ini, di tempat ramai seperti itu kita hanya dapat melihat pemandangan setiap orang yang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri tanpa peduli dengan orang lain meskipun itu ada di sampingnya. Mereka terlalu malas untuk berbicara. Padahal, dengan mencoba untuk mengenal kawan baru, walau hanya sekedar berbasa-basi saja, tentunya akan menjalin suatu sillahturahmi yang baru dengan orang lain. Bagi para remaja, hal ini juga akan menjadi suatu pembelajaran baik yang dapat meningkatkan respect kepada orang lain, atau dengan kata lain peduli.
Ya, peduli. Pada era globalisasi ini, kita akan melihat berbagai sikap individualistik sering menduduki peringkat teratas dalam suatu proses perubahan sikap remaja yang sering juga disebut pemuda-pemudi bangsa ini. Pernahkah kita melihat sebuah pemandangan dimana pada suatu meja terdapat sekelompok orang yang sedang duduk menanti makanan saling berdiam diri satu sama lain memegang gadget mereka masing-masing? Pemandangan seperti ini sudah merupakan pemandangan yang sangat biasa di masa modern ini. Bahkan tanpa kita sadari, ketika kita melihat hal tersebut, maka kita telah memasuki masa individualistik itu sendiri. Mengapa demikian? Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sering melihat pemandangan-pemandangan tersebut. Namun mengapa kita diam saja? Hal itu dikarenakan kita juga sudah mulai tidak lagi peduli dengan perubahan sikap di era globalisasi ini. Kita mengetahui bahwa semua akan berdampak buruk di masa depan, namun secara tidak langsung, kita tidak lagi peduli sehingga asumsi itu yang berubah dengan sendirinya menjadi sebuah kata sederhana yaitu ‘wajar’ ataupun ‘biasa’. Pada zaman sekarang ini, dengan kemajuan teknologi kita akan melihat banyak hal lebih mudah dan lebih cepat. Namun meskipun mata kita kita menatap dengan lama, namun sebenarnya kita tidak benar-benar melihat dan mengerti apa yang kita lihat, karena tidak ada lagi kepedulian diantara kita.

Tidak Peduli, Sebuah Degradasi Moral di Era Modern
Pada era modern, sikap individualistik seolah menjadi suatu hal yang wajar, terutama pada para remaja yang lebih mengutamakan gadget-gadget dibandingkan rasa peduli mereka. Fenomena inilah yang kemudian akan membawa degradasi moral di kalangan remaja.

Degradasi sendiri dapat diartikan sebagai penurunan suatu kualitas. Dengan kata lain, degradasi moral remaja merupakan suatu keadaan dimana moral remaja pada saat ini terus menerus mengalami penurunan kualitas yang semakin tidak terkendali.

Ketidakpedulian sendiri dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pemicu degradasi moral remaja sekarang ini. Hal ini dikarenakan sebelum adanya globalisasi, remaja yang notabene adalah pemuda-pemudi bangsa tersebut selalu mengambil bagian untuk tampil pada garda terdepan. Bukan hanya sekedar untuk menunjukkan diri melainkan karena mereka peduli.

Jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia, para pemuda Indonesia ini sangat peduli akan nasib bangsanya. Pada masa itu banyak terbentuk organisasi pemuda seperti Budi Utomo, Trikoro Dharmo, Jong Indonesia bahkan hingga lahirlah “Sumpah Pemuda”. Tidak seolah berhenti begitu saja, pemuda-pemuda ini terus menunjukkan kepeduliannya pada peristiwa reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Pada saat tersebut, remaja dapat dikatakan sangat erat kaitannya dengan perubahan. Dengan berlandaskan dasar suatu kepedulian, mereka seolah menciptakan semangat dan daya juang yang tinggi untuk mencapai tujuan mereka yang satu dan mengabdi untuk Indonesia. Perjuangan yang mereka lakukan semasa itu adalah suatu bentuk pengabdian yang tulus dipersembahkan dari diri seorang remaja. Sebuah pengabdian untuk negeri tercinta.

Namun sayangnya, remaja-remaja yang demikian akan sangat sulit untuk kita jumpai di era era modern ini. Asumsi yang telah beredar membuat para remaja masa kini sangat sulit untuk meneladani sikap pemuda yang memiliki semangat juang tinggi itu. Arus globalisasi telah menawarkan sejuta kemudahan seolah telah membuat mental para remaja saat ini menjadi malas, tidak kritis dan tak lagi peduli pada kehidupan di sekitarnya. Padahal dapat dikatakan remaja adalah generasi penerus masa depan yang kelak diharapkan akan dapat mengabdikan dirinya untuk Indonesia. Akan tetapi, bagaimana jika ketidakpedulian tersebut justru terjadi marak terjadi para remaja sekarang ini? Bagaimana remaja yang merupakan para pemuda generasi penerus bangsa dapat melanjutkan visi dan misi negara yang lebih baik jika di dalam diri mereka sendiri saja sudah tidak terdapat kepedulian? Bagaimanakah mereka akan dapat mengabdi untuk negeri dengan tulus?

Inilah mengapa degradasi moral remaja kerap terjadi di era global yang semakin menjamur ini. Para remaja belum memiliki kesiapan karakter yang cukup untuk menghadapi masa yang menawarkan segala kemudahan dalam setiap prosesnya. Apalagi pada masa ini, pergaulan dunia pun akan menjadi semakin tanpa batas, yang mana ekonomi global semakin merajalela dan mendunia. Bukan hanya pada kecanggihan teknologi saja, ekonomi global ini juga secara tidak langsung membuat para remaja erjebak pada suatu lingkaran kelam yang disebut “hedonisme”.

Pada dasarnya, hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Apabila remaja sudah terjebak dalam lingkaran ini, maka mereka akan cenderung untuk terus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan menggunakannya untuk bersenang-senang. Sehingga, pada era globalisasi ini, segala hal yang mereka lakukan bukanlah lagi berdasarkan pada kepedulian dan niat sebuat pengabdian yang tulus, melainkan untuk sebuah royalti.

Pemuda dan Pengabdian
Pada era ini, peran pemuda penerus generasi bangsa melalui suatu proses pengabdian seolah tergantikan oleh pentingnya sebuah royalti. Degradasi moral seolah semakin menggerus pikiran dan tingkah laku para remaja dalam proses pencarian jati diri mereka. Fenomena itu pun juga dapat kita saksikan dengan sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyaknya potret remaja yang melakukan kegiatan pengabdian hanya untuk sebuah popularitas yang tentunya akan meningkatkan pendapatan mereka. Dengan kata lain, royalti.
Sekarang ini, bukan menjadi suatu rahasia lagi apabila banyak remaja menginginkan suatu profesi hanya untuk sebuah prestige tanpa pernah peduli dengan tujuan utama dari profesi tersebut. Banyak dari mereka yang menginginkan profesi hanya untuk meningkatkan pendapatan yang mereka miliki sehingga tidak ada lagi suatu bentuk pengabdian atas dasar profesi. Semua hanya didasarkan pada royalti. Ya lagi-lagi royalti.
Padahal, dalam proses pencarian jati diri ini, sebuah pengabdian dapat menjadi salah satu pembelajaran yang positif untuk menciptakan karakter remaja yang kokoh, berkarakter dan tulus. Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian kegiatan atau aktivitas yang memberikan pengaruh positif kepada peningkatan kualitas hidup suatu masyarakat. Pengabdian masyarakat ini dapat menjadi suatu bentuk aktualisasi diri remaja dengan ilmu yang sudah didapatkan agar dapat dan diaplikasikan ditengah-tengah masyarakat. Dengan melakukan suatu pengabdian masyarakat, para remaja ini secara tidak langsung akan terlatih untuk dapat kreatif, logis, peduli, bekerja secara berkelompok, dan melatih diri menuju pada suatu pembelajaran mengenai ketulusan. Suatu cara yang cukup tepat untuk menghadapi era globalisasi yang tidak stabil ini. Sehingga, sungguh disayangkan ketika mengabdi justru menjadi suatu ajang untuk sekedar mencari royalti.

Peduli, Mengabdi atau Royalti
Tidak dapat terbantahkan jika para remaja diharapkan akan tumbuh menjadi sosok-sosok pemuda pada era kemerdekaan atau reformasi yang menunjukkan pengabdian mereka kepada negeri yang dicintainya. Tentunya, di masa sekarang ini, para remaja ini tidak harus menunjukkan pengabdiannya dengan berperang atau melakukan pertempuran seperti masa lalu. Pengabdian tersebut dapat diwujudkan dengan lebih sederhana seperti kegiatan bakti sosial atau membantu pembangunan masyarakat dengan ilmu yang telah kita miliki. Pengabdian juga dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan sembari berbagi ilmu kepada penduduk yang bertempat di wilayah terkecil. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam melakukan pengabdian. Akan tetapi, tentunya semua itu harus didasarkan dengan sebuah rasa peduli yang sungguh tulus kepada bangsa kita ini. Tidak hanya sekedar mengedepankan royalti. Pengabdian yang dilakukan atas dasar peduli merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengurangi segala bentuk degradasi moral remaja diantara arus globalisasi yang begitu keras ini.

Pada hakikatnya, seorang remaja memang masih perlu dibimbing baik dari lingkungan maupun orang yang lebih dewasa dalam proses pencarian jati dirinya agar tidak mengalami degradasi moral remaja pada fasenya. Tentunya hal ini tidak terlepas oleh alasan yang menyebutkan bahwa sosok yang labil dan mudah. Namun, pada fase ini, para remaja ini juga telah diberikan suatu kebebasan untuk memilih kemana langkah yang harus ditempuhnya karena sejatinya, itulah sebuah proses pendewasaan diri. Akhirnya, semua akan tetap kembali pada diri kita sendiri sebagai seorang remaja. Akankah kita meneladani sikap pemuda yang memiliki kepedulian dan pengabdian yang tinggi tersebut ataukah menjadi seorang pemuda yang menentukan jalan hidupnya dengan mengedepankan sebuah uang dan sikap individualistik. Semua kembali pada kita. Peduli, mengabdi atau royalti? Semua ada ditanganmu sendiri wahai pemuda, generasi penerus bangsa!

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: