Recent posts

Ukir Kenangan di Hari Terakhir Pengabdian

November 18, 2016 0 Comments

Menjadi pengajar, pendidik, sekaligus penginspirasi. Ketiga kata ini menjadi doa dan harapan Tim Yudhistira UMengajar di setiap langkah pengabdiannya. Bertempat di SDN Duwet 1, Poncokusumo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, punggawa tim Yudhistira menghabiskan waktunya untuk mengabdi di sana selama empat minggu. Pengabdian yang diawali dari tanggal 22 Oktober 2016 ini telah sampai pada ujungnya yakni pada hari Sabtu kemarin (12/11).
Berbekal semangat membara, tim yang berjumlah dua belas orang ini mengawali pemberangkatan dengan berkumpul di Gerbang Jalan Semarang UM sedari pukul 05.30 WIB. Perjalanan ke lokasi memakan waktu lebih kurang satu jam. Ketika sampai di sekolah yang dikelilingi oleh dataran tinggi tersebut, tim kami disambut hangat dan ceria oleh puluhan murid-murid yang sudah menanti di halaman sekolah. Dengan senyum dan celoteh mereka yang menyapa kami dengan sebutan “kakak, kakak...”, rasanya lelah kami selama perjalanan tertebus juga. Mereka yang mulanya asyik bermain kesana kemari, tanpa aba-aba, langsung mendekat pada kami. Seolah-olah sudah sangat merindukan kehadiran kami.
Jarum jam tepat mengarah pada pukul 07.30 WIB. Kami bersiap-siap memandu senam pagi bersama seluruh siswa. Senam ini sudah kami perkenalkan sejak awal pengabdian minggu pertama. Senam yang kami perkenalkan cukup mudah dan ceria, yakni senam Pinguin dan Senam Potong Bebek Angsa. Alhasil, tak sedikit dari mereka yang hafal gerakannya sembari ikut menyanyi. Setelah senam selesai, Kak Nurdianto, salah satu volunteer, memberi aba-aba kepada siswa untuk mengambil sampah-sampah yang berserakan dan measukkannya ke tempat sampah.
Sebelum pembelajaran dimulai, kami membiasakan siswa untuk berbaris, berdoa, menghafal pancasila, serta bernyanyi menyanyikan lagu nasional dan daerah. Memang tidak memang untuk menerapkan kebiasaan ini, bahkan ada beberapa murid kelas 6 yang ogah membaca pancasila. Sehingga, volunteer pun berkewajiban memberikan pemahaman akan pentinganya membaca pancasila. Hal inilah yang diterapkan oleh Kak Oza, volunteer kelas 6.
Di hari terakhir pengabdian di sana, kami tak lagi memberi materi. Kami memberikan evaluasi terhadap materi-materi yang sudah kami ajarkan mulai dari pertemuan pertama hingga ketiga. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dan mengetahui seberapa mana materi yang telah disampaikan dapat diterima. Bentuk evaluasi pun bermacam-macam, ada yang berbentuk lisan maupun tulis. Terkadang dugaan kita bisa jadi salah, karena waktu 1,5 jam yang kami sediakan untuk siswa ternyata jauh dari perkiraan. Mayoritas siswa sudah selesai mengerjakan dalam kurun waktu 5-15 menit, terutama untuk soal pilihan ganda di kelas 4 dan 5. Maka dari itu, setelah evaluasi dilanjutkan dengan koreksi bersama dan review materi. Koreksi bersama ini dilakukan agar siswa dapat mengetahui dimana letak kesalahannya. Hasil dari evaluasi ini pun juga bermacam-macam. Kami harus menyadari pula bahwa kemampuan setiapa anak memang berbeda-beda.
Setelah evaluasi, siswa diajak untuk bermain bersama di dalam kelas. Game yang kami perkenalkan adalah “Balon Lagu”. Permainannya sederhana. Siswa membentuk kelompok 2-3 orang dan setiap kelompok berlomba membawa balon sampai ke garis finish. Namun, ketika ada lagu yang diputar siswa harus berhenti untuk berjoget. Pada kenyataannya, game ini tidak dapat diterapkan di semua kelas karena kondisi siswa yang berbeda-beda. Terutama siswa kelas 1 dan 2, mereka lebih memilih berebut balon daripada bermain game. Hal inilah yang membuat volunteer harus memutar otak untuk mencari game lain yang dapat menarik perhatian siswa.
Tidak lengkap rasanya jika hanya bermain dalam satu kelas saja, kami pun mengajak siswa untuk bermain bersama di lapangan sekolah. Dengan dipandu oleh Kak Arifa yang menjelaskan mengenai teknik pelaksanaan permainan ”Kucing dan Tikus” serta “Elang dan Ular”. Permainan ini memang sangat menyenangkan, karena fisik siswa juga dituntut untuk terus bergerak dalam permainan. Kesulitan yang kami rasakan ialah saat mengondisikan siswa. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang tak semua anak paham dengan teknis permainan ini, sehingga volunteer harus turun tangan sendiri bahkan ikut bermain di tengah-tengah mereka.
Jarum jam menunjuk angka 10.30 WIB. Permainan telah selesai, menandakan bahwa pengabdian kami di sini pun harus usai. Siswa pun disiapkan untuk berbaris dan mengikuti upacara penutupan pengabdian. Dengan dipandu Kak Zen, selaku pembawa acara, upacara penutupan berlangsung khidmat. Kepala Sekolah SDN Duwet 1 turut memberikan beberapa wejangan kepada tim kami, baik mengenai teknis pengajaran maupun tentang pengelolaan acara. Tak lupa juga, salah satu perwakilan dari tim kami, Kak Karinda, turut memberikan kesan pesan mengenai pengabdian di sini. Tidak hanya dari volunteer, perwakilan siswa juga memberikan kesan pesannya untuk kami. Salah satu dari pesan siswa yang tersemat dalam upacara penutupan ini adalah, “Jangan melupakan kami dan sesekali berkunjunglah kesini lagi”. Haru mendengar pesan tersebut. Secara teknis pengbdian kami memang sudah usai, namun secara jiwa tidak akan pernah berhenti. Pun, juga harus disadari bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Namun juga harus diingat bahwa setiap perpisahan pun pasti akan membekas kenangan.

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

0 komentar: