Recent posts

Adikku, Serupa tapi Tak Sama

“Mengapa kita mesti mempelajari perkembangan anak? Sebagai seorang guru, setiap tahun Anda akan bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak baru di kelas Anda. Semakin banyak Anda mempelajari perkembangan anak, semakin banyak pemahaman Anda tentang cara yang tepat untuk mengajari mereka” (Santrock, 2008). Memahami perkembangan anak berkorelasi dengan mempelajari karakter mereka, baik karakter dalam berinteraksi dengan orang lain maupun karakter saat mengikuti pembelajaran. Adik-adik dari SDN Taji 02 sebagian memiliki karakter beragam, ada yang memiliki karakter serupa dan ada pula yang berbeda dalam hal penerimaan materi pembelajaran dari sukarelawan.

Adik-adik kelas 1 dengan sukarelawan KAK Risma dan KAK Diva cenderung memiliki karakter yang berbeda satu dengan lainnya, ada yang punya karakter usil, patuh terhadap petunjuk yang diberikan sukarelawan; dan memiliki keingintahuan tinggi. Salah satu adik bernama Antoni memiliki karakter yang cukup aktif, namun hal tersebut bisa dikendalikan dengan cara diajak mengobrol secara personal oleh KAK Risma atau KAK Diva. Adik-adik kelas 2 yang diajar oleh KAK Firin dan KAK Dewi  juga memiliki karakter yang berbeda di antara satu sama lain. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi sukarelawan untuk memberikan perhatian lebih agar semua terkendali dengan baik karena pada dasarnya mereka membutuhkannya.
KAK Irma dan KAK Diah yang merupakan sukarelawan di kelas 3 harus memberikan kekuatan ekstra pada minggu ke-2 pengabdian ini untuk memahami karakter dari adik-adiknya. Mereka memberikan materi pembelajaran melalui tiga tipe pembelajaran sekaligus, yakni tipe auditorial, visual dan kinestetik. Setelah dilakukan uji coba pada ketiga tipe belajar tersebut, ternyata adik-adik kelas 3 lebih cocok menggunakan tipe belajar visual dan kinestetik.
Kelas 4 di SDN Taji 02 terdiri dari 8 anak, 3 di antaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki. KAK Ekky dan KAK Elin yang merupakan sukarelawan untuk kelas 4 SD sangat senang dalam proses pembelajaran karena mereka bisa akrab dengan adik-adiknya. Meskipun sangat akrab, terkadang Kakak-kakak sukarelawan di kelas 4 ini sulit mengondisikan siswa karena mereka mempunyai karakter yang berbeda-beda satu sama lain, terutama anak laki-laki yang berjumlah 5 orang. Ada seorang siswi bernama Alisa dia sangat lucu sekali dan duduk di bangku paling belakang. Meskipun dia duduk paling belakang, dalam hal menangkap materi Alisa inilah yang ingatannya paling kuat dan selalu memperhatikan dengan baik selama proses pembelajaran.
Untuk kelas 5, KAK Muid dan KAK Almira selaku sukarelawan mengajar adik-adik sejumlah 10 orang. Mereka datang dengan berbagai karakter, ada yang kreatif; terampil; bahkan ada juga yang sedikit sulit dalam menangkap materi pembelajaran yang disampaikan oleh sukarelawan. Ada 2 siswa yang saling beradu dalam menjawab pertanyaan, mencari perhatian dari Kakak-kakak sukarelawan dan dalam hal penyelesaian tugas yang diberikan, yakni Rofiq dan Absor. Mereka merupakan siswa yang sangat menonjol di kelas 5 karena keaktifannya selama proses pembelajaran. Tak jarang pula KAK Muid dan KAK Almira terkadang menyuruh mereka untuk mengajari teman-temannya yang lain jika dirasa temannya belum mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.
Adik-adik kelas 6 berjumlah 7 orang yang diajar oleh KAK Rama dan KAK Liya. Secara keseluruhan, mereka memiliki karakter yang hampir sama. Karakter-karakter tersebut antara lain: kreatif, aktif dan cepat memahami materi pembelajaran, penurut, kurang sabar dalam menunggu giliran, dan suka berteriak ketika berbicara. Dua karakter terakhir ini menjadi tantangan sekaligus tugas bagi KAK Rama dan KAK Liya untuk memberikan pendidikan karakter bagi adik-adik kelas 6 agar setelah lulus dari Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka bisa membawa sekaligus menempatkan diri dengan baik.
Pada dasarnya, setiap anak memiliki proses perkembangannya masing-masing. Selama proses perkembangan tersebut, anak akan memiliki karakter yang sama maupun berbeda dari anak yang lain. Selaku pengajar, kita tidak diperkenankan menggeneralisasikan mereka−meskipun terkadang diperlukan−dalam setiap kesempatan. Setiap proses perkembangan ke tahap yang lebih tinggi akan semakin mematangkan emosi serta karakter dari masing-masing anak. Sebagai seorang sukarelawan, melalui kegiatan pengabdian yang diakukan di UMengajar ini kita dapat mempelajari karakter masing-masing anak dan lebih memahami proses perkembangannya sebelum diterapkan ketika kelak kita menjadi seorang pendidik.
Rujukan:
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Kencana Prenada Media Group

UMengajar

"Bangga mendidik, mengabdi dan menginspirasi anak bangsa".

2 komentar: